GuidePedia

0


APABILA Allah menjadikan lahir kita patuh kepada perintah-Nya, dan apabila Allah menjadikan hati kita bulat hanya kepada Allah semata, sesungguhnya itu karunia Allah yang paling besar. Nikmat yang paling lezat adalah tersingkapnya hati kita untuk yakin kepada Allah dan lahir kita sempurna ikhtiar.

Tubuh dan akal hendaknya dibimbing ikhtiar sempurna, seperti yang dicontohkan sunnah Rasulullah SAW.  Hati yakin, tubuh tidak sempurna berusaha, tidak akan terasa nikmat. Sebaliknya, hati tidak yakin, meski tubuh ikhtiar, juga tidak nikmat. Maka, yang harus diyakini hati pertama kali adalah meyakini benar, bahwa Allah memilih kita hidup untuk patuh kepada Allah. Selanjutnya, juga meyakini Allah akan mengurus diri kita. Bila hal ini dipenuhi, pasti segala keperluan kita akan diurus-Nya.

Maka, sebaiknya kita mendekati saja Allah yang dapat mengurus kita. Mau rapat misalnya, tidak akan menghasilkan apa-apa bila tidak dibimbing Allah. Urusan apa pun bila tidak sungguh-sungguh minta pertolongan Allah akan terasa sulit, termasuk rezeki. Ingatlah, hanya Allah yang memilikinya dan hanya Allah pula yang tahu di mana letak rezeki tersebut. Bila tidak dibimbing Allah, ikhtiar kita akan acak dan merasa cemas memikirkan di mana rezekinya berada. Belum lagi bila tidak bertemu, tentu bukan tidak ada jatahnya. Sekali lagi, bila kita sungguh-sungguh kita akan bertemu dengan apa yang dijatahkan Allah. Alhasil, kita merasa tenang dan nyaman. Karena sudah janji Allah, sebagaimana firmanNya, ” Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”(Qs.Muhammad : 7). Ayat ini sangat jelas bahwa pekerjaan apa pun bila tidak disertai tawakal, sengsara yang didapat.

Apakah takdir rezeki bisa diubah? Jawabannya bisa, bila ada hubungannya dengan takdir yang lain. Yang bisa mengubah takdir itu adalah doa. Kekuatannya terletak pada taubat dan syukur. Mungkin saja awalnya kita tidak mempunyai takdir haji karena tidak memiliki uang. Tapi karena rajin berdoa dan shalat, rezeki haji bisa dari mana saja.

Maka, merasa khawatir boleh jadi termasuk syirik khafi. Atau, merasa cemas hingga bergantung kepada orang lain. Hal ini bisa menutup pintu rezeki kita. Jadi lebih baik hidup dituntun Allah.  Kita harus belajar dari Rasulullah, bagaimana beliau menjadi pribadi yang sempurna tawakalnya dan sempurna pula tubuhnya melakukan ikhtiar.

Posting Komentar

 
Top